IIMS-2008
Jangan tanya berapa banyak orang mengerti soal citra yang dipamerkan. Tapi tanyalah berapa besar surat pemesanan kendaraan yang berhasil diteken. Andi Wahyudi cuma geleng kepala.
Beberapa minggu sebelum Indonesia Motor Show (IMS) 2008 digelar, pihak penyelenggara, Dyandra, mengadakan acara konferensi pers berkaitan dengan hajatan tersebut. Hadir ketua panitia penyelenggara IMS 2008, Johnny Darmawan dan ketua Gaikindo Bambang Trisulo serta perwakilan agen tunggal pemegang merek (ATPM). Acara dimulai dengan sambutan dari Johnny Darmawan.
Saya sedikit terkejut ketika Johnny dalam pembukaannya “berpesan” agar media menulis yang baik-baik soal IMS. “Ini adalah ajang memperkenalkan kemajuan teknologi bari di industri otomotif. Jadi jangan hanya jualannya saja yang disorot,” katanya. Saya meradang. Tapi masih tetap bertahan karena ingin mendengarkan omongan Bambang Trisulo. Tapi, ah, ternyata Bambang setali tiga uang dengan Johnny. Hanya saja Bambang menyampaikannya dengan gayanya yang kalem dan sistematis. Alhasil, saya beranjak dari tempat duduk dan keluar ruangan konferensi pers.
Kegelisahan saya bukanlah tanpa sebab. Alasannya sederhana, sejak beberapa tahun lalu ajang yang diklaim diakui Organisation Internationale des Constructeurs d’Automobiles” (OICA) ini lebih terlihat sebagai ajang jual beli ketimbang ajang adu kemajuan teknologi otomotif. Tema yang diusung sebenarnya indah: Advanced Motoring. Hi-Quality Living. Tapi pada kenyataannya, tema tersebut masih jauh dari yang digambarkan.
Kalaupun ada yang terlihat ngotot, cuma Honda dan Toyota yang begitu agresif. Keduanya mengemas stand masing-masing dengan ide yang fresh plus bintang tamu yang memikat seperti Honda yang mendatangkan Advanced Step in Innovative Mobility alias ASIMO, robot rakitan Honda setinggi 130 cm dan berat 54 kg yang mengajak anak-anak menari-nari pada waktu-waktu tertentu. Integritas komitmen Honda pada lingkungan hidup terlihat nyata mulai dari pintu masuk stand mereka, desain ruang pamer, slide presentation sampai produk-produk yang dipamerkan –yang dikenal irit.
Sedangkan Toyota, menghadirkan dua mobil konsep yaitu I-Real dan FT-HS. Yang menarik, I-Real menggunakan kenaf sebagai bahan baku interior kendaraan. Kenaf adalah salah satu jenis tanaman yang berasal dari Indonesia. Sedangkan FT-HS merupakan mobil konsep yang menggabungkan konsep racing dengan hybrid powertrain. Menurut Chiharu Tamura, Concept Planner FT-HS, mobil ini dirancang agar seperti mobil Ferrari tapi dengan bahan bakar seirit mobil 4 silinder. Mobil ini bermesin V6 3.5L yang powerful plus Toyota Hybrid Synergi Drive yang menghasilkan tenaga 400 hp.
Ada juga Vehicle Dynamic Integrated Management (VDIM) yaitu simulator teknologi keamanan dan kenyamanan berkendara, superior handling dan integrasi kontrol kemudi yang memberikan pengalaman baru bagi pengunjung dalam soal berkendara diberbagai medan jalan.
Sementara beberapa ATPM yang memboyong kemajuan teknologinya lewat mobil konsep seperti Mitsubishi, Suzuki, Ford, Nissan dan Daihatsu terkesan kurang all out dalam mensosialisasikan pencapaian teknologinya –meski sebenarnya mereka bisa tampil lebih bagus ketimbang yang dipertunjukkan pada hajatan itu.
Namun yang luar biasa dimata saya adalah semangat yang ditunjukkan para sales dari masing-masing ATPM. Mereka begitu antusias menyambut pengunjung yang datang, sambil berharap –dan sedikit merayu pengunjung- untuk meneken surat pemesanan kendaraan (SPK). Yup, nuansa banyak-banyakan SPK terlihat begitu dominan di hajatan ini.
Tapi, mau dibilang apa. Rupanya kita hanya baru bisa begitu. Janganlah berharap ajang ini akan segegap gempita Tokyo Motor Show atau Bangkok Motor Show, dimana ajang tersebut dijadikan arena untuk memperkenalkan kemajuan teknologi masing-masing brand. Kalaupun dikatakan berdagang atau jualan, mereka hanya menjual image. Nah, disinilah bedanya.
Penyelenggara seperti Tokyo Motor Show atau ajang internasional lainnya, sadar betul bahwa image sebuah brand memegang peranan penting dalam proses pencitraan diri. Memang, ujung dari semua itu akan bermuara pada angka penjualan. Hanya saja untuk meningkatkan penjualan tidak melulu dengan hitungan matematis. Menunjukkan bahwa produsen mobil memiliki perhatian pada lingkungan hidup, atau memenuhi tanggung jawab sosial pada masyarakat dan lingkungan juga bisa menjadi sarana untuk mendongkrak penjualan. Come on guys, jangan takut produk Anda tidak laku. Masyarakat –lebih-lebih diperkotaan- sekarang sudah mulai pintar.
Yang sangat disayangkan adalah kurang agresifnya pihak penyelenggara untuk mengkreasikan sebuah hajatan “internasional” dalam rangka sosialisasi kemajuan teknologi industri otomotif yang mendukung perbaikan kehidupan. Atau dengan kata lain, penyelenggara terlalu muluk mengusung idealisme tanpa disertai pemahaman yang kuat.
Jadi maaf saja kalau saya menghapus kata “internasional” di tulisan ini. Tapi untuk sebuah warming up, lumayanlah.