Oleh: andi | September 5, 2008

Delete International Word, Please…

IIMS-2008

Jangan tanya berapa banyak orang mengerti soal citra yang dipamerkan. Tapi tanyalah berapa besar surat pemesanan kendaraan yang berhasil diteken. Andi Wahyudi cuma geleng kepala.

Beberapa minggu sebelum Indonesia Motor Show (IMS) 2008 digelar, pihak penyelenggara, Dyandra, mengadakan acara konferensi pers berkaitan dengan hajatan tersebut. Hadir ketua panitia penyelenggara IMS 2008, Johnny Darmawan dan ketua Gaikindo Bambang Trisulo serta perwakilan agen tunggal pemegang merek (ATPM). Acara dimulai dengan sambutan dari Johnny Darmawan.

Saya sedikit terkejut ketika Johnny dalam pembukaannya “berpesan” agar media menulis yang baik-baik soal IMS. “Ini adalah ajang memperkenalkan kemajuan teknologi bari di industri otomotif. Jadi jangan hanya jualannya saja yang disorot,” katanya. Saya meradang. Tapi masih tetap bertahan karena ingin mendengarkan omongan Bambang Trisulo. Tapi, ah, ternyata Bambang setali tiga uang dengan Johnny. Hanya saja Bambang menyampaikannya dengan gayanya yang kalem dan sistematis. Alhasil, saya beranjak dari tempat duduk dan keluar ruangan konferensi pers.

Kegelisahan saya bukanlah tanpa sebab. Alasannya sederhana, sejak beberapa tahun lalu ajang yang diklaim diakui Organisation Internationale des Constructeurs d’Automobiles” (OICA) ini lebih terlihat sebagai ajang jual beli ketimbang ajang adu kemajuan teknologi otomotif. Tema yang diusung sebenarnya indah: Advanced Motoring. Hi-Quality Living. Tapi pada kenyataannya, tema tersebut masih jauh dari yang digambarkan.

Kalaupun ada yang terlihat ngotot, cuma Honda dan Toyota yang begitu agresif. Keduanya mengemas stand masing-masing dengan ide yang fresh plus bintang tamu yang memikat seperti Honda yang mendatangkan Advanced Step in Innovative Mobility alias ASIMO, robot rakitan Honda setinggi 130 cm dan berat 54 kg yang mengajak anak-anak menari-nari pada waktu-waktu tertentu. Integritas komitmen Honda pada lingkungan hidup terlihat nyata mulai dari pintu masuk stand mereka, desain ruang pamer, slide presentation sampai produk-produk yang dipamerkan –yang dikenal irit.

Sedangkan Toyota, menghadirkan dua mobil konsep yaitu I-Real dan FT-HS. Yang menarik, I-Real menggunakan kenaf sebagai bahan baku interior kendaraan. Kenaf adalah salah satu jenis tanaman yang berasal dari Indonesia. Sedangkan FT-HS merupakan mobil konsep yang menggabungkan konsep racing dengan hybrid powertrain. Menurut Chiharu Tamura, Concept Planner FT-HS, mobil ini dirancang agar seperti mobil Ferrari tapi dengan bahan bakar seirit mobil 4 silinder. Mobil ini bermesin V6 3.5L yang powerful plus Toyota Hybrid Synergi Drive yang menghasilkan tenaga 400 hp.

Ada juga Vehicle Dynamic Integrated Management (VDIM) yaitu simulator teknologi keamanan dan kenyamanan berkendara, superior handling dan integrasi kontrol kemudi yang memberikan pengalaman baru bagi pengunjung dalam soal berkendara diberbagai medan jalan.

Sementara beberapa ATPM yang memboyong kemajuan teknologinya lewat mobil konsep seperti Mitsubishi, Suzuki, Ford, Nissan dan Daihatsu terkesan kurang all out dalam mensosialisasikan pencapaian teknologinya –meski sebenarnya mereka bisa tampil lebih bagus ketimbang yang dipertunjukkan pada hajatan itu.

Namun yang luar biasa dimata saya adalah semangat yang ditunjukkan para sales dari masing-masing ATPM. Mereka begitu antusias menyambut pengunjung yang datang, sambil berharap –dan sedikit merayu pengunjung- untuk meneken surat pemesanan kendaraan (SPK). Yup, nuansa banyak-banyakan SPK terlihat begitu dominan di hajatan ini.

Tapi, mau dibilang apa. Rupanya kita hanya baru bisa begitu. Janganlah berharap ajang ini akan segegap gempita Tokyo Motor Show atau Bangkok Motor Show, dimana ajang tersebut dijadikan arena untuk memperkenalkan kemajuan teknologi masing-masing brand. Kalaupun dikatakan berdagang atau jualan, mereka hanya menjual image. Nah, disinilah bedanya.

Penyelenggara seperti Tokyo Motor Show atau ajang internasional lainnya, sadar betul bahwa image sebuah brand memegang peranan penting dalam proses pencitraan diri. Memang, ujung dari semua itu akan bermuara pada angka penjualan. Hanya saja untuk meningkatkan penjualan tidak melulu dengan hitungan matematis. Menunjukkan bahwa produsen mobil memiliki perhatian pada lingkungan hidup, atau memenuhi tanggung jawab sosial pada masyarakat dan lingkungan juga bisa menjadi sarana untuk mendongkrak penjualan. Come on guys, jangan takut produk Anda tidak laku. Masyarakat –lebih-lebih diperkotaan- sekarang sudah mulai pintar.

Yang sangat disayangkan adalah kurang agresifnya pihak penyelenggara untuk mengkreasikan sebuah hajatan “internasional” dalam rangka sosialisasi kemajuan teknologi industri otomotif yang mendukung perbaikan kehidupan. Atau dengan kata lain, penyelenggara terlalu muluk mengusung idealisme tanpa disertai pemahaman yang kuat.

Jadi maaf saja kalau saya menghapus kata “internasional” di tulisan ini. Tapi untuk sebuah warming up, lumayanlah.

Oleh: andi | September 5, 2008

Never Underestimate

Captiva 2.0 VDCI

Meski dibayang-bayangi kualitas solar yang busuk, Captiva 2.0L VCDi tetap percaya diri masuk Indonesia. Andi Wahyudi merasa segar melihat lenggak-lenggoknya.

Ada yang membuat saya merasa geli –dan ingin tertawa ngakak- ketika mengikuti test drive Captiva diesel 2.0L VCDi (variable geometri commonrail diesel injection) beberapa waktu lalu. Awalnya bermula ketika para rombongan jurnalis menuju mobil yang akan di tes. Pada beberapa mobil Captiva diesel 2.0L VCDi tertulis kalimat : 7 seater turbo diesel SUV. Never underestimate Captiva power and torque. Jujur, saya ingin ngakak membaca tulisan itu, tapi saya tahan. Nggak enak kan siang-siang tertawa sendiri tanpa diketahui alasannya. Bisa-bisa saya dianggap gila oleh personil General Motors Auto World Indonesia (GMAWI) dan dikirim paksa ke rumah sakit jiwa.
Sambil duduk dibaris kedua –saya memutuskan jadi penumpang dulu- saya sesekali tersenyum ketika mengingat tulisan tersebut. Oh My God, betapa tidak pede-nya GMAWI dengan tulisan tersebut. Baiklah, di mata saya, tulisan itu seperti menampilkan rasa putus asa pada kemampuan mesin diesel yang diproduksinya. Hey, saya tahu, anak buah Mukiat Sutikno (Managing director GMAWI) pasti menganggap saya konyol atau bodoh tapi saya tidak peduli. Menurut saya, jangan pernah membuat sebuah tagline dengan kata-kata yang berkonotasi negatif. Kata ‘underestimate’ menurut saya berkonotasi pada hal yang sifatnya kurang baik, negatif atau yang sejenisnya. Apalagi ditambah kata ‘never’. Meski saya tahu jika negatif bertemu negatif maka akan menjadi positif. Tapi, ini kan bukan matematika. Tapi siapa peduli? So, jadi saya nikmati saja perjalanan test drive rombongan kali ini.
Selepas dari Kemang Village sebagai titik keberangkatan, rombongan terjebak macet di sepanjang jalan Antarasari. Saya cuma termangu sambil mendengarkan celotehan di pesawat radio. Rekan jurnalis yang mengemudikan mobil memuji kemampuan diesel Captiva, “Responnya juga lumayan nih. Nggak lemot,” katanya. Saya cuma nyengir sambil mengamati interior mobil diesel ini. Mmm, nggak ada bedanya dengan versi 2.4L bensin, pas-pasan. Padahal saya berharap, mobil ini menyuguhkan suasana interior yang sedikit beda dengan versi bensin, paling tidak kotak kosong di konsol tengah bisa dijejali sesuatu. Tapi, nyatanya tidak dan dibiarkan kosong. Eh, tapi lumayan kok buat menyimpan uang receh atau tiket tol, juga permen, pulpen atau sekotak kondom.
Matahari tepat diatas kepala ketika rombongan memasuki jalan tol lingkar luar Jakarta. Saya masih enjoy duduk di baris kedua.  Memasuki jalan tol Cipularang, rekan-rekan dari TV mulai mengambil gambar bergerak. Kaca pintu belakang dibuka lebar dan dengan santainya para juru kamera membidik Captiva yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Betapa beruntungnya mereka lantaran kaca pintu belakang Captiva bisa dibuka lebar tanpa harus membuka pintunya. Well, Captiva rupanya cukup mengerti dengan cara kerja jurnalis.

Di jalan bebas hambatan itu, Captiva dibesut dalam kecepatan rata-rata 100-120 kpj. Tapi bukan itu yang menyenangkan bagi saya, melainkan dengkuran khas diesel nyaris tak terdengar. Beberapa kali saya menajamkan pendengaran ketika terdengar bunyi samar yang masuk ke kabin. Tapi setelah ditelisik, itu rupanya bunyi gesekan ban, sedangkan dengkuran diesel seolah raib tak berbekas. Walah, saya cuma bisa mengernyitkan dahi.
Selepas makan siang –yang kesiangan karena kami begitu asyik menguji Captiva- giliran saya dibelakang kemudi. Jalur Puncak jadi ajang buat menguji mobil ini. Begitu membejek gas, mata saya langsung segar. Wups, semburan torsinya terasa dibadan. Dan dengan entengnya mobil ini merayapi jalur Puncak tanpa harus ngos-ngosan. Maklum saja torsinya diklaim mencapai 320 Nm pada 2.000 rpm dan power 150 bhp pada 4.000 rpm. Damn! saya begitu nafsu merasakan Captiva melenggak-lenggok penuh semangat. Beberapa kali overtaking dijalan menanjak dan Captiva sanggup memenuhi gaya mengemudi saya. Mmm, mobil ini bakal menjadi ancaman serius bagi brand lain yang begitu bangga dengan mesin dieselnya. Ini saran saya: mulai sekarang buatlah proyek serius untuk menandingi Captiva 2.0L VCDi ini!
Merasa penasaran, keesokan harinya saya menguji mobil ini di jalur menuju Javana Spa. Jalannya menanjak terjal dan berkelok. Saya hentikan Captiva dalam posisi menanjak, keluar dan menghisap sebatang rokok. Selang beberapa menit saya kembali ke kabin Captiva dan mengaktifkan mesinnya. Dari posisi tersebut, Captiva tidak sedikitpun kesulitan membawa saya ke tikungan menanjak berikutnya. Saya sempat melihat seorang jurnalis yang menguji Captiva hingga terdengar decitan-decitan ban yang bikin jantung Fajar Harianto (public relation GMAWI) berpacu lebih cepat dari biasanya. Eh, saya juga ingin membuat Fajar menderita lagi tapi rasanya tak tega jika melihat Captiva ini terguling sia-sia. Jadi beruntunglah saya masih bisa mengendalikan libido itu.
Oke, bisa saya simpulkan kalau Captiva 2.0L VCDi ini bisa diandalkan dalam melahap jalan menanjak dan berkelok. Juga kelengkapan keamanan yang difasilitasi sabuk pengaman, airbags dan seperangkat pendukung keamanan lainnya. Tapi jika mengingat apa yang menjadi fokus dalam workshop diesel yang diadakan oleh GMAWI beberapa minggu sebelum test drive ini harus juga diketahui oleh calon konsumen Captiva diesel.
Persoalannya adalah sejauhmana kualitas bahan bakar yang ada di Indonesia bisa dikonsumsi dengan baik oleh diesel rakitan GM ini. Sudah bukan rahasia lagi jika kualitas solar di tanah air masih sangat rendah. Kadar sulfurnya sangat tinggi sehingga bisa mengganggu kinerja mesin. Pihak GMAWI sendiri merekomendasikan penggunaan Pertadex untuk konsumsi diesel produksinya. Hanya saja, kemampuan Pertamina dalam menyuplai bahan bakar itu ke seluruh Indonesia masih minim. Infrastrukturnya jauh dari yang diharapkan. So, bagaimana solusinya?
Harry Yanto, Business Planning & Product Manager GMAWI mengatakan, “Kami sedang mencoba merumuskan kerjasama dengan Pertamina misalnya dalam menyiapkan Pertadex di jaringan showroom kami sehingga konsumen kami bisa mendapatkan solar yang berkualitas baik untuk mobilnya.”
Tapi bagaimana jika tetap sulit mendapatkan Pertadex? Suwadji Wirjono, Aftersales Director GMAWI, “Jika sulit dan tidak ada pilihan, gunakan saja solar yang ada. Konsekuensinya, pemilik mobil harus ekstra rajin memeriksakan kondisi mobilnya di bengkel resmi GM.”

Komentar :
SUV diesel yang bisa diandalkan. Meski interiornya pas-pasan, tapi torsi dan powernya cukup menggoda.
Harga : Rp 289.500.000
Performa : 2.0 VCDi, 5 speed tiptronic
Tech : 2.000 cc, 150 hp/4.000 rpm, 320 Nm/2.000 rpm.

Oleh: andi | September 5, 2008

Mencuci Ari-ari

Ini adalah kali kedua saya melakukan tugas itu. Setelah setahun lalu melaksanakannya dengan baik. Ya, mencuci ari-ari bayi anak kedua kami, laki-laki, lahir tengah hari tepat dua hari setelah ulang tahun bundanya. Heh, dia adalah kado istimewa bagi istri dan juga saya. Marhaen Bagaskara namanya.

Tiba-tiba saya teringat setahun lewat ketika harus mencuci ari-ari bayi pertama kami, perempuan, Alfatia Kalila Putri namanya; lahir ketika terang tanah dan tanggalnya sama dengan tanggal kelahiran ibu mertua saya dan bulannya sama dengan bulan kelahiran adik ipar saya; om anak saya.

Mencuci ari-ari, ternyata bukan pekerjaan mudah bagi saya. Bukannya saya takut melihat darah atau baunya yang beda dipenciuman. Bukan. Saya takjub. Ya, saya takjub dengan ari-ari yang menjadi saluran kehidupan bayi di dalam rahim.

Ketika mencucinya pertama kali ada perasaan yang luar biasa. Saya biarkan air mengalir dari selang. Selesai membaca Bismillah, saya mengambilnya perlahan. Tidak berat namun terasa lembek ditangan. Awalnya agak sulit memegangnya karena masih banyak lendir, apalagi tali ari-arinya cukup panjang.

Istri saya berpesan agar selalu tersenyum selama membersihkan ari-ari. Karena katanya ari-ari adalah kembaran bayi. Entah dimana akal sehat saya sehingga saya mematuhinya; tersenyum sepanjang mencuci ari-ari. Jangan ambil mistisnya, ambil hikmahnya: senyum itu menyehatkan.

Istri juga berpesan agar menghitung tonjolan yang ada di tali ari-ari. Mmm…ada 3 sampai 5 tonjolan. Katanya sih, itu jumlah anak yang akan kami miliki nantinya. Lagi-lagi saya tidak mencernanya dengan bernas. Apapunlah, saya bersyukur dikaruniai anak perempuan yang sehat. Alhamdulillah…

Selesai mencuci ari-ari, mertua saya membungkusnya dengan kain putih dan memasukkannya kedalam kendi. Bersamanya, disertakan sejumput asem, taburan garam, kembang, potongan kain perca, dan potongan kertas bertuliskan Bismillah….Saya cuma diam sambil menyaksikan ibu mertua saya membungkus kendi berisi ari-ari itu.

Kemudian bapak mertua saya menggali lubang sekitar 20-30 senti. Lalu ditanamnya kendi yang dibungkus kain putih itu. Tanahnya tidak diratakan tapi dibiarkan menggunung, lalu ditaburi kembang thus ditancapkan sebatang sedotan. Katanya biar tetap ada udara yang masuk. Lalu gundukan tersebut ditutup semacam cungkup dengan lampu 5 watt yang menyala terang ketika malam menjelang; dan itu terus berlangsung selama 40 hari.

Saya tidak pernah berpikir untuk menanyakan semua ritus tersebut. Bagi saya, selama ari-ari tersebut dikubur dan tidak dimakan anjing atau kucing itu sudah cukup. Bagaimanapun juga ari-ari itu yang menemani si bayi selama dalam rahim. Saya juga sering mendengar cerita tentang ari-ari yang dibuang ke laut sehingga ketika si bayi besar, dia selalu tidak pernah ada di rumah; berpetualang, mencari ari-arinya yang entah ada dimana.

Dan untuk yang kedua kalinya, saya mencuci ari-ari. Saya tersenyum dan dengan lembut meniriskan darah yang masih ada. Tapi kali ini saya tidak menghitung tonjolan yang ada di tali ari-ari. Setelah segalanya bersih, saya serahkan pada ibu mertua yang membungkusnya rapi. Bapak mertua saya menggali lubang dan menanamnya disamping tangga. Ada dua ari-ari yang ditanam berdekatan, dan ini adalah yang ketiga. Dan, beberapa bulan lagi akan menyusul satu karena istri adik ipar saya akan melahirkan.

Mmm…kini selama 40 hari, cungkup berlampu 5 watt menyala terang. Untung anak kedua saya lahir diakhir bulan Syaban, sehingga masa 40 hari saya lewati sambil menyenandungkan Surat Yasin setiap malam disambung ibadah sahur. Tentu tanpa rasa takut seperti yang istri saya alami ketika anak pertama lahir. Ketika itu, malam pertama dia di rumah, ada suara perempuan bersenandung lirih tanpa terlihat wujudnya.

Lebak Bulus, 4 September 2008

Oleh: andi | Mei 27, 2008

Putriku

Alhamdulillah…
Sekarang putriku sudah bisa berjalan. Hari minggu (25/05) dia sudah bisa berjalan tanpa dituntun. Padahal hari sebelumnya, jalannya masih dituntun dan seruntulan, sekarang tidak lagi meski jalannya masih suka asal. Hehehe…

Putriku, pintu dunia sudah terbuka untukmu. Melangkahlah dengan hati-hati. Tetap tersenyum seperti biasanya. Jangan mengumbar amarah. Jadilah dirimu sendiri; apa adanya. Jangan kau bebani hidupmu dengan tingkah pola kepalsuan. Aku, Ayahmu, akan ada disampingmu senantiasa. Maaf jika aku mungkin tidak sesempurna yang kau bayangkan. Tapi percayalah, aku dan Bundamu akan selalu memberikan yang terbaik untukmu.
Putriku, jalan didepan sana bukan jalan yang mudah. Penuh onak dan duri yang siap melukai kaki kecilmu. Tapi jangan takut. Majulah…Majulah dengan menyebut Asma Allah. Ayah dan Bunda akan membimbingmu.
Putriku, langkah kecilmu adalah inspirasi bagi Ayah dan Bunda. Maka melangkahlah dengan penuh semangat, niat baik dan kerja keras.
Putriku, kalau kau terjatuh, jangan menangis. Bangkitlah. Singkirkan debu yang ada ditangan dan kakimu dengan baik. Lalu melangkah lagi dengan perhitungan. Ayah tidak akan mengajarkanmu menjadi cengeng. Jadi maafkan Ayah sebelumnya jika suara Ayah terdengar keras ditelingamu.
Putriku, tahukah engkau apa yang Ayah inginkan sekarang? Ayah ingin mendengarkan celetukan pertamamu tentang diri Ayah yang tidak sempurna ini. Ya, Ayah juga ingin mendengarkan suaramu, ceritamu dan nyanyianmu.
Putriku, Ayah dan Bunda akan mendampingimu meski jasad ini sudah tiada. Doa yang terbaik dari Ayah dan Bunda untukmu, Putri kecilku.

Karang Tengah, 270508

Oleh: andi | Maret 18, 2008

Ah!

Perlahan, senja itu berubah: merah merona; menggairahkan.
Sementara tik-tok jarum jam seolah menjadi saksi
betapa detik-detik yang bergulir begitu berharga.
Tiba-tiba kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita duga;
menjelang tua usia kita.
Ah, begitu pandainya kita berlindung dibalik wajah tak bersalah.

selatan jakarta, dari lantai 3 yang berantakan,
27.11.07

Oleh: andi | Maret 6, 2008

Komunitas Nangka

Ini catatan tentang komunitas kecil, namanya Komunitas Nangka. Diambil dari nama gang di wilayah Tanjung Barat Jakarta Selatan. Yang punya rumah biasa dipanggil Saphi. Dia teman saya sejak SMP dan SMA. Disana berkumpul teman2 dari beberapa kampus terkenal. Ada UI, IISIP, Perbanas, UP, Unpad dan kampus2 lainnya. Makhluk yang menghuni rumah dengan halaman luas itu beraneka ragam tabiatnya. Ada yg doyan makan, tidur, baca stensilan, komik, suka manjat pohon, bakar sampah atau bikin api unggun. Yang pasti nyaris sebagian besar bisa bermain gitar dan kartu.

Nah, bisa bermain gitar merupakan salah satu tujuan saya merapat ke Komunitas ini. Maklum saja saya rada gaptek dengan benda bersenar itu. Alhasil setiap hari saya bertandang ke Nangka. Tapi apa lacur…tidak ada yang mau mengajarkan saya memetik gitar. Si Saphi yang saya harapkan, malah asyik ngegambar. Si Paul asyik bikin api unggun. Si Goodjer asyik maen truf and joker karo. Si Oeds cuek bebek. Si Krisna asyik maen gitar sendiri. Si Trudy asyik dengan deretan koleksi cewe2nya. Si Marolop kadang gak jelas kelakuannya. Waaaahh…pusing saya. Akhirnya ketimbang saya gila sendiri, maka saya melakukan aktifitas lain.

Entah mengapa di Nangka saya paling senang kalo nangkring di atap rumah. Sambil bersihin sampah daun, saya suka menatap langit terutama saat senja tiba. Biasanya saya ditemani sebungkus rokok dan segelas kopi. Wow, luar biasa nikmatnya. Belakangan, Si Paul juga suka ikutan. Ada peristiwa lucu dan mendebarkan. Ceritanya ada maling yang mau menggasak rumah Saphi lewat atap. Saya dan Paul langsung naek ke atap buat nyari malingnya. Sebagian warga sekitar sudah ngumpul. Tiba-tiba saya dan Paul disambit orang yang nyangka kamilah malingnya. Sontak Paul mengacungkan golok yang dibawanya. “Kurang ajar luh. Ini gue Paul. Jangan sambit. Mo gue bacok luh!” teriak Si Batak ini. Alhasil malingnya lolos. Hahaha…

Kebiasaan lain yang saya lakukan di tempat ini yaitu bikin api unggun. Gara2 kebiasaan itu saya kemudian dipanggil “Panggang”. Biasanya sekitar pukul 9 malam, saya langsung mencari kayu2 bekas untuk dibakar. Kalo gak ada kayu, buku2 bekas Si Saphi yang saya bakar. Soal keahlian ini, saya belajar dari Paul yang suka naek gunung. Setelah api menyala biasanya kami duduk berkeliling. Maen gitar sambil nyanyi2. Saya paling senang kalo Saphi nyanyi “Yesterday”. Saya juga suka baca puisi. Tapi, biasanya setelah baca puisi Si Saphi selalu bilang, “Dari gaya lu baca puisi, kyknya gw liat elo lagi punya masalah berat ya ‘Gang?” Sialan lu ‘Phi!

Hobi lainnya, saya doyan gali lobang buat tempat sampah. Biasanya kalo lobang sudah penuh, Si Saphi telpon Saya, “Gang, lobang sampah yang elo gali udah penuh. Gimana ya?” Dan dengan senang hati saya menggalinya. Suatu ketika, saya pernah salah gali. Lobang galiannya tepat berada di atas septiktank. Selama beberapa hari saya membakar sampah di situ. Eh, ketika Om-nya Saphi datang, doi langsung marah2 karena saya menggali lobang di atas septiktank. Langsung aja saya tutup dan bikin lobang baru. Sementara Si Saphi malah molor…

Akibat kebiasaan gali lobang itu lambat laun saya jadi suka maculin halaman samping dan menanam singkong. Bibitnya saya colong dari kebun singkong di depan rumah Saphi. Setelah tiga bulan, saya memanennya dan membakarnya rame2. Selain kopi dan teh, sesekali disantap bersama bir. Makan singkong pake bir lucu juga kan. Hehehe…
(to be continue…)

kwitang, 310806

Oleh: andi | Maret 6, 2008

Kecoa

Saya punya teman, namanya Kecoa. Dia suka dipanggil begitu. Awalnya saya tidak tahu mengapa. Tapi setelah menyelami pemikiran serta kisah-kisah sentimentilnya, saya mahfum jika dia lebih suka dipanggil Kecoa.

Si Kecoa ini adalah realitas atas kumpulan sajak-sajak yang tercecer di belantara hijau. Dia adalah bioskop tua penuh coretan. Diamnya adalah kontemplasi. Tawanya adalah kejujuran. Dan lenguhannya adalah ketidakberdayaan pada senja yang diam-diam menikamnya. Tapi dia lebih sering tertawa. Meski tak tahu tertawa untuk siapa.

Di buku catatan itu, Kecoa mencari Hanin, Ajo dan Yin Yang. Lalu dikejauhan suaranya membahana,”Keep Rolling. Jangan berhenti sampai ada darah dan nyawa meregang!” Kemudian anjing-anjing kapitalis itu tertawa riang sambil menggenggam bintang lembaran beraroma tajam.

Sekarang Si Kecoa sedang jatuh cinta pada malam dan hujan. Malna, Sapardi dan Seno ditinggalkannya dalam goa yang lembab. Dia lebih senang bercengkrama dengan ribuan laron yang keluar dari catatan kaki jutaan tahun silam. Dan entah sampai kapan Antigone berharap cemas menunggu Haemon yang akan mengeluarkannya dari kuburan batu.

bumi kwitang yang bersejarah, 081206

Oleh: andi | Maret 6, 2008

Thanks God

Alhamdulillah…
Ini adalah tulisan pengalaman saya menghadapi hari-hari yang menegangkan.
Setelah menunggu sekian lama, tepat di minggu ke-40, istri saya melahirkan putri pertama kami dengan normal. Berat 2,8 kg dan panjang 50 cm. Lahir tanggal 17 Februari 2007 pukul 06.22 di RSUD Tarakan Jakarta.

Ketegangan semakin berpacu ketika 2 hari sebelum melahirkan (15/2) istri saya mendadak demam tinggi dan kehilangan tenaga. Tanda-tanda tersebut sebetulnya sudah kelihatan malam sebelumnya. Kebetulan istri saya waktu itu ingin sekali mencicipi es krim. Sepulangnya dari toko kami makan es krim bersama. Sejam kemudian, istri saya mulai merasa lemas tapi tidak terlalu diperdulikan. Baru keesokan harinya, badannya panas dan tidak bertenaga.

Kebetulan hari itu adalah waktunya kami kontrol ke dokter. Oleh dokter kandungan, istri saya diminta cek darah dan diberi vitamin. Dokter tidak bilang apa-apa kecuali jika sampai hari senin belum lahir maka istri saya akan diinduksi. Hari itu pun saya lalui dengan perasaan was-was. Konsentrasi pada pekerjaan tidak maksimal. Sampai-sampai saya lupa menebus resep obat yang diberikan dokter buat istri saya. So, sekitar pukul 21.30 saya pergi ke apotik.

Saya masih belum tenang. Sebab panas istri saya belum turun juga. Saya semakin tidak tega ketika melihatnya menangis. Saya cuma bisa diam sambil memeluk dia dan coba menenangkan hatinya. Kekhawatiran saya bertambah dua kali lipat manakala saya ingat jabang bayi yang dikandungnya. Saya khawatir jika si jabang bayi juga ikut menderita.

Entah mengapa ketika istri saya selesai menangis, saya melihat banyak flek di pakaian dalamnya. Sontak malam itu juga sekitar pukul 22.00 saya boyong istri ke RS.

Di RS, seperti biasa, saya harus mengurus tetek bengek birokrasi. Baru satu jam kemudian istri saya masuk ruang persalinan. Anehnya, setelah keluar flek, istri saya sudah tidak demam lagi. Jalannya juga gagah seperti biasa. Hanya saja dia merasa mules setiap 10 menit.

Yang menyebalkan ketika si Bidan dengan entengnya bilang, kalau istri saya baru bukaan satu dan disuruh pulang saja. “Ini sih lahirnya 2-3 hari lagi pak,” katanya. Tapi feeling saya berkata lain. Lantaran tidak mau ambil resiko, saya bersikeras agar istri saya tetap di RS sampai melahirkan meski istri saya merasa bosan dan sebal dengan kelakuan suster di RS tersebut yang kurang ramah.

Sabtu dinihari (17/02) istri saya merasakan mules yang sangat luar biasa. Saya tidak bisa menemaninya langsung karena tidak boleh ada yang menunggu di dalam ruangan. Alhasil komunikasi kami melalui HP. Sekitar pukul 04.00 istri saya di bawa ke ruang persalinan. Saya menunggu dengan perasaan was-was. Tapi sejam kemudian istri saya keluar lagi dan belum melahirkan. Dia minta dipanggilkan ibunya.

Sekitar pukul 05.30 ibu mertua saya datang dan menemaninya meski tidak boleh masuk ruang persalinan. Tepat pukul 06.22 istri saya melahirkan. Yang menyebalkan, saya tidak ada di tempat karena sedang ke kantin. Kabar melahirkan datang dari teman saya yang kebetulan menemani dan menunggu di samping kamar persalinan. Huh, itu satu-satunya tindakan konyol yang saya lakukan…..

Tak lama berselang, dengan ditemani suster, saya melihat bayi mungil itu. Kulitnya masih merah. Dia menangis. Subhanallah…suara tangisnya adalah nyanyian terindah yang saya dengar pagi itu. Perlahan saya kumandangkan azan ditelinganya. Hati-hati sekali saya mengazaninya. Saya masih belum percaya kalau itu adalah buah hati saya. Tangannya yang mungil memegang tangan saya. Saya merasa melayang. Tangisnya terhenti ketika saya membaca iqomat di telinga kirinya seolah dia memahami kalimat suci itu. Wow, Its Amazing!

Alhamdulillah kini putri kami dalam kondisi sehat meski di RS sempat dirawat agak lama karena leukositnya belum stabil. Sekarang dia sudah ada diantara kami. Babak baru kehidupan kami dimulai. Bangun tengah malam untuk mengganti popok yang basah, memberinya ASI, mengusir nyamuk yang coba mengganggunya adalah keseharian kami sekarang. Sedikit berat memang. Tapi kami coba menjalaninya dengan senyum. Sekarang saya mengerti mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk menghormati orang tua terutama Ibu….Tabik!

Terima kasih atas segala perhatian, bantuan dan doa kepada kami selama menjalani hari-hari menegangkan yang begitu indah.

Andi-Susan dan putri tersayang, Alfatia Kalila Putri.

Oleh: andi | Maret 6, 2008

Agustus 2007

Jumat siang ini begitu panas. Global warming mungkin sudah menggila. Usai sholat jumat, sendal jepit hijau saya raib, mungkin tertukar dengan yang lain. Akhirnya, saya pakai sendal mesjid; hijau pula warnanya.

Dari mesjid mampir ke mini market, beli vitamin dan cemilan buat nemenin kerja. Setelah itu makan siang. Mmm…jus apel dan gado-gado jadi menu utama siang ini. Diseberang jalan, sekumpulan orang berdiri menunggu angkutan untuk kampanye pilkada. Ehm, entah mengapa saya tidak begitu antusias mengikuti pilkada yang baru pertama kali ini rakyat bisa langsung memilih jagoannya. Sayang, jagoan saya tidak bisa ikut lantaran dikhianati partai-partai yang dulu mendukungnya. Mau maju secara independen, tapi dijegal oleh birokratis yang jadi ciri khas negeri ini.

Tiba-tiba, saya teringat pacar pertama. Mmm…bagaimana kabarnya sekarang ya? Pasti anak-anaknya sudah besar. Saya ingat sekali, beberapa bulan setelah dia menikah, dia masih sempat telepon saya hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal saya sendiri tidak ingat hari itu ultah saya. Juga ketika dia hamil dan melahirkan anak pertamanya, dia telepon saya meski bukan saya yang menerimanya. Alhasil, saya sempat dinasehati ibu agar jangan menjalin hubungan yang terlalu dekat dengannya. “Dia sudah punya suami. Ingat itu!” pesan ibu saya. Dan lagi-lagi -ketika itu- saya harus mengelus dada.

Setiap agustus, saya selalu ingat mantan pacar. Bukan kebetulan, dari 6 mantan pacar saya, tiga diantaranya berulang tahun di bulan agustus. Istri saya yang urutan ke-7, juga lahir bulan agustus. Beberapa wanita yang dulu jadi “teman tapi mesra” saya juga lahir di bulan agustus. Kata orang, Sagitarius memang cocok bersanding dengan Leo. Hahaha…

Tapi agustus ini, saya sepertinya ingin menangis. Sebab saya begitu sulit mengingat Tuhan. Setiap ibadah sholat, bukan Tuhan yang diingat tapi hutang piutang, kerjaan, anak istri, orang tua, karib kerabat bahkan taruhan bola. Astagfirullah…ampun Tuhan!

Tuhan, bukan maksud hamba melupakanMu. Hamba tahu, Kau tak butuh perhatian. Tanpa itupun Kau tetap Penguasa Semesta Alam. DzatMu tetap tak terurai, bahkan oleh pikiran liarku sekalipun. Tapi Tuhan, jangan biarkan Setan yang mendampingi hamba menjadi dewasa. Kerdilkanlah dia dengan kemudahan hamba melafazkan AsmaMu. Penjarakan dia dengan kesederhanaanMu. Ampuni segala kedunguan hamba, Tuhan.

Selatan Jakarta, 030807, 14:17

Oleh: andi | Februari 28, 2008

Front End-71

“Industri media telah memasuki fase yang menuntut pelakunya berprilaku profesional dengan tetap memperhatikan kebenaran fungsional yang berlaku. Tidak menerapkan cara-cara kerdil untuk menguasai pasar”

Ada kegilaan baru yang terjadi di meja redaksi Media Satu Group. Kali ini setiap senin dan selasa selama 2,5 bulan kami mengadakan semacam pelatihan bagi tim redaksi—ya macam SWOT-lah. Kegiatan ini dimoderatori oleh Gandrasta Bangko, Editorial Consultant TopGear yang mendapatkan tugas khusus meningkatkan performa redaksi.

Alhasil, ditengah kerja redaksi yang cukup padat, kami mulai membongkar lagi aneka literatur jurnalistik. Ini suasana baru yang menyenangkan. Setiap pertemuan kursi ruang diskusi selalu terisi. Bangko mengemasnya dengan santai, serius, dan besar. Banyak hal baru diserap berkaitan dengan aktifitas jurnalistik kontemporer.

Kenyataannya, sekarang kebutuhan akan informasi menjadi tidak terelakkan lagi. Persoalannya adalah bagaimana informasi itu disajikan dengan cara-cara profesional. Membuat berita itu hal mudah. Tapi yang sulit bagaimana mempertanggungjawabkan pemberitaan yang dibuat agar informasi itu tidak hangus di kotak rumor. Nah, pengalaman-pengalaman para jurnalis terdahulu jadi bagian yang harus kami ketahui, termasuk bagaimana sebuah berita bisa mendatangkan kegembiraan atau kedukaan.
Langkah ini juga dibarengi dengan pelatihan pada divisi marketing. Lagi-lagi, persaingan dilahan ini sangat keras. Bahkan, bisa sangat kejam. Di sinilah kami belajar bagaimana jadi tenaga marketing yang handal, bermartabat juga menyenangkan.

Kegiatan tersebut merupakan wujud dari resolusi yang kami tekadkan tahun ini. Kami sadar, industri media telah memasuki fase yang menuntut pelakunya berprilaku profesional dengan tetap memperhatikan kebenaran fungsional yang berlaku. Tidak menerapkan cara-cara kerdil untuk menguasai pasar. Well, semua itu butuh kebesaran hati untuk mau berkompetisi.

Edisi ini, Livina menjadi bintang. Bukan lantaran fotonya terpampang di cover tapi lebih pada “kenakalannya” untuk mematahkan dominasi Yaris dan Jazz. Saking seriusnya, prinsipal Nissan mengutus Thierry Viadieu, Corporate Vice President of Nissan Motor Co., Ltd. untuk membuka selubung Livina bersama President Director PT Nissan Motor Indonesia Norio Ota.

Lainnya, adalah laporan TopGear Awards 2007 yang dilakukan para polibiro TopGear di Jepang. Selama beberapa hari, gawean yang dipimpin Jeremy Clarkson ini menguji beberapa kandidat mobil terbaik 2007. Siapa yang menang? Buka terus halaman majalah ini dan bergembiralah karena kabarnya mobil terbaik itu akan segera mendarat di Indonesia.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori