Jumat siang ini begitu panas. Global warming mungkin sudah menggila. Usai sholat jumat, sendal jepit hijau saya raib, mungkin tertukar dengan yang lain. Akhirnya, saya pakai sendal mesjid; hijau pula warnanya.
Dari mesjid mampir ke mini market, beli vitamin dan cemilan buat nemenin kerja. Setelah itu makan siang. Mmm…jus apel dan gado-gado jadi menu utama siang ini. Diseberang jalan, sekumpulan orang berdiri menunggu angkutan untuk kampanye pilkada. Ehm, entah mengapa saya tidak begitu antusias mengikuti pilkada yang baru pertama kali ini rakyat bisa langsung memilih jagoannya. Sayang, jagoan saya tidak bisa ikut lantaran dikhianati partai-partai yang dulu mendukungnya. Mau maju secara independen, tapi dijegal oleh birokratis yang jadi ciri khas negeri ini.
Tiba-tiba, saya teringat pacar pertama. Mmm…bagaimana kabarnya sekarang ya? Pasti anak-anaknya sudah besar. Saya ingat sekali, beberapa bulan setelah dia menikah, dia masih sempat telepon saya hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal saya sendiri tidak ingat hari itu ultah saya. Juga ketika dia hamil dan melahirkan anak pertamanya, dia telepon saya meski bukan saya yang menerimanya. Alhasil, saya sempat dinasehati ibu agar jangan menjalin hubungan yang terlalu dekat dengannya. “Dia sudah punya suami. Ingat itu!” pesan ibu saya. Dan lagi-lagi -ketika itu- saya harus mengelus dada.
Setiap agustus, saya selalu ingat mantan pacar. Bukan kebetulan, dari 6 mantan pacar saya, tiga diantaranya berulang tahun di bulan agustus. Istri saya yang urutan ke-7, juga lahir bulan agustus. Beberapa wanita yang dulu jadi “teman tapi mesra” saya juga lahir di bulan agustus. Kata orang, Sagitarius memang cocok bersanding dengan Leo. Hahaha…
Tapi agustus ini, saya sepertinya ingin menangis. Sebab saya begitu sulit mengingat Tuhan. Setiap ibadah sholat, bukan Tuhan yang diingat tapi hutang piutang, kerjaan, anak istri, orang tua, karib kerabat bahkan taruhan bola. Astagfirullah…ampun Tuhan!
Tuhan, bukan maksud hamba melupakanMu. Hamba tahu, Kau tak butuh perhatian. Tanpa itupun Kau tetap Penguasa Semesta Alam. DzatMu tetap tak terurai, bahkan oleh pikiran liarku sekalipun. Tapi Tuhan, jangan biarkan Setan yang mendampingi hamba menjadi dewasa. Kerdilkanlah dia dengan kemudahan hamba melafazkan AsmaMu. Penjarakan dia dengan kesederhanaanMu. Ampuni segala kedunguan hamba, Tuhan.
Selatan Jakarta, 030807, 14:17