Saya punya teman, namanya Kecoa. Dia suka dipanggil begitu. Awalnya saya tidak tahu mengapa. Tapi setelah menyelami pemikiran serta kisah-kisah sentimentilnya, saya mahfum jika dia lebih suka dipanggil Kecoa.
Si Kecoa ini adalah realitas atas kumpulan sajak-sajak yang tercecer di belantara hijau. Dia adalah bioskop tua penuh coretan. Diamnya adalah kontemplasi. Tawanya adalah kejujuran. Dan lenguhannya adalah ketidakberdayaan pada senja yang diam-diam menikamnya. Tapi dia lebih sering tertawa. Meski tak tahu tertawa untuk siapa.
Di buku catatan itu, Kecoa mencari Hanin, Ajo dan Yin Yang. Lalu dikejauhan suaranya membahana,”Keep Rolling. Jangan berhenti sampai ada darah dan nyawa meregang!” Kemudian anjing-anjing kapitalis itu tertawa riang sambil menggenggam bintang lembaran beraroma tajam.
Sekarang Si Kecoa sedang jatuh cinta pada malam dan hujan. Malna, Sapardi dan Seno ditinggalkannya dalam goa yang lembab. Dia lebih senang bercengkrama dengan ribuan laron yang keluar dari catatan kaki jutaan tahun silam. Dan entah sampai kapan Antigone berharap cemas menunggu Haemon yang akan mengeluarkannya dari kuburan batu.
bumi kwitang yang bersejarah, 081206