Alhamdulillah…
Ini adalah tulisan pengalaman saya menghadapi hari-hari yang menegangkan.
Setelah menunggu sekian lama, tepat di minggu ke-40, istri saya melahirkan putri pertama kami dengan normal. Berat 2,8 kg dan panjang 50 cm. Lahir tanggal 17 Februari 2007 pukul 06.22 di RSUD Tarakan Jakarta.
Ketegangan semakin berpacu ketika 2 hari sebelum melahirkan (15/2) istri saya mendadak demam tinggi dan kehilangan tenaga. Tanda-tanda tersebut sebetulnya sudah kelihatan malam sebelumnya. Kebetulan istri saya waktu itu ingin sekali mencicipi es krim. Sepulangnya dari toko kami makan es krim bersama. Sejam kemudian, istri saya mulai merasa lemas tapi tidak terlalu diperdulikan. Baru keesokan harinya, badannya panas dan tidak bertenaga.
Kebetulan hari itu adalah waktunya kami kontrol ke dokter. Oleh dokter kandungan, istri saya diminta cek darah dan diberi vitamin. Dokter tidak bilang apa-apa kecuali jika sampai hari senin belum lahir maka istri saya akan diinduksi. Hari itu pun saya lalui dengan perasaan was-was. Konsentrasi pada pekerjaan tidak maksimal. Sampai-sampai saya lupa menebus resep obat yang diberikan dokter buat istri saya. So, sekitar pukul 21.30 saya pergi ke apotik.
Saya masih belum tenang. Sebab panas istri saya belum turun juga. Saya semakin tidak tega ketika melihatnya menangis. Saya cuma bisa diam sambil memeluk dia dan coba menenangkan hatinya. Kekhawatiran saya bertambah dua kali lipat manakala saya ingat jabang bayi yang dikandungnya. Saya khawatir jika si jabang bayi juga ikut menderita.
Entah mengapa ketika istri saya selesai menangis, saya melihat banyak flek di pakaian dalamnya. Sontak malam itu juga sekitar pukul 22.00 saya boyong istri ke RS.
Di RS, seperti biasa, saya harus mengurus tetek bengek birokrasi. Baru satu jam kemudian istri saya masuk ruang persalinan. Anehnya, setelah keluar flek, istri saya sudah tidak demam lagi. Jalannya juga gagah seperti biasa. Hanya saja dia merasa mules setiap 10 menit.
Yang menyebalkan ketika si Bidan dengan entengnya bilang, kalau istri saya baru bukaan satu dan disuruh pulang saja. “Ini sih lahirnya 2-3 hari lagi pak,” katanya. Tapi feeling saya berkata lain. Lantaran tidak mau ambil resiko, saya bersikeras agar istri saya tetap di RS sampai melahirkan meski istri saya merasa bosan dan sebal dengan kelakuan suster di RS tersebut yang kurang ramah.
Sabtu dinihari (17/02) istri saya merasakan mules yang sangat luar biasa. Saya tidak bisa menemaninya langsung karena tidak boleh ada yang menunggu di dalam ruangan. Alhasil komunikasi kami melalui HP. Sekitar pukul 04.00 istri saya di bawa ke ruang persalinan. Saya menunggu dengan perasaan was-was. Tapi sejam kemudian istri saya keluar lagi dan belum melahirkan. Dia minta dipanggilkan ibunya.
Sekitar pukul 05.30 ibu mertua saya datang dan menemaninya meski tidak boleh masuk ruang persalinan. Tepat pukul 06.22 istri saya melahirkan. Yang menyebalkan, saya tidak ada di tempat karena sedang ke kantin. Kabar melahirkan datang dari teman saya yang kebetulan menemani dan menunggu di samping kamar persalinan. Huh, itu satu-satunya tindakan konyol yang saya lakukan…..
Tak lama berselang, dengan ditemani suster, saya melihat bayi mungil itu. Kulitnya masih merah. Dia menangis. Subhanallah…suara tangisnya adalah nyanyian terindah yang saya dengar pagi itu. Perlahan saya kumandangkan azan ditelinganya. Hati-hati sekali saya mengazaninya. Saya masih belum percaya kalau itu adalah buah hati saya. Tangannya yang mungil memegang tangan saya. Saya merasa melayang. Tangisnya terhenti ketika saya membaca iqomat di telinga kirinya seolah dia memahami kalimat suci itu. Wow, Its Amazing!
Alhamdulillah kini putri kami dalam kondisi sehat meski di RS sempat dirawat agak lama karena leukositnya belum stabil. Sekarang dia sudah ada diantara kami. Babak baru kehidupan kami dimulai. Bangun tengah malam untuk mengganti popok yang basah, memberinya ASI, mengusir nyamuk yang coba mengganggunya adalah keseharian kami sekarang. Sedikit berat memang. Tapi kami coba menjalaninya dengan senyum. Sekarang saya mengerti mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk menghormati orang tua terutama Ibu….Tabik!
Terima kasih atas segala perhatian, bantuan dan doa kepada kami selama menjalani hari-hari menegangkan yang begitu indah.
Andi-Susan dan putri tersayang, Alfatia Kalila Putri.