Ini adalah kali kedua saya melakukan tugas itu. Setelah setahun lalu melaksanakannya dengan baik. Ya, mencuci ari-ari bayi anak kedua kami, laki-laki, lahir tengah hari tepat dua hari setelah ulang tahun bundanya. Heh, dia adalah kado istimewa bagi istri dan juga saya. Marhaen Bagaskara namanya.
Tiba-tiba saya teringat setahun lewat ketika harus mencuci ari-ari bayi pertama kami, perempuan, Alfatia Kalila Putri namanya; lahir ketika terang tanah dan tanggalnya sama dengan tanggal kelahiran ibu mertua saya dan bulannya sama dengan bulan kelahiran adik ipar saya; om anak saya.
Mencuci ari-ari, ternyata bukan pekerjaan mudah bagi saya. Bukannya saya takut melihat darah atau baunya yang beda dipenciuman. Bukan. Saya takjub. Ya, saya takjub dengan ari-ari yang menjadi saluran kehidupan bayi di dalam rahim.
Ketika mencucinya pertama kali ada perasaan yang luar biasa. Saya biarkan air mengalir dari selang. Selesai membaca Bismillah, saya mengambilnya perlahan. Tidak berat namun terasa lembek ditangan. Awalnya agak sulit memegangnya karena masih banyak lendir, apalagi tali ari-arinya cukup panjang.
Istri saya berpesan agar selalu tersenyum selama membersihkan ari-ari. Karena katanya ari-ari adalah kembaran bayi. Entah dimana akal sehat saya sehingga saya mematuhinya; tersenyum sepanjang mencuci ari-ari. Jangan ambil mistisnya, ambil hikmahnya: senyum itu menyehatkan.
Istri juga berpesan agar menghitung tonjolan yang ada di tali ari-ari. Mmm…ada 3 sampai 5 tonjolan. Katanya sih, itu jumlah anak yang akan kami miliki nantinya. Lagi-lagi saya tidak mencernanya dengan bernas. Apapunlah, saya bersyukur dikaruniai anak perempuan yang sehat. Alhamdulillah…
Selesai mencuci ari-ari, mertua saya membungkusnya dengan kain putih dan memasukkannya kedalam kendi. Bersamanya, disertakan sejumput asem, taburan garam, kembang, potongan kain perca, dan potongan kertas bertuliskan Bismillah….Saya cuma diam sambil menyaksikan ibu mertua saya membungkus kendi berisi ari-ari itu.
Kemudian bapak mertua saya menggali lubang sekitar 20-30 senti. Lalu ditanamnya kendi yang dibungkus kain putih itu. Tanahnya tidak diratakan tapi dibiarkan menggunung, lalu ditaburi kembang thus ditancapkan sebatang sedotan. Katanya biar tetap ada udara yang masuk. Lalu gundukan tersebut ditutup semacam cungkup dengan lampu 5 watt yang menyala terang ketika malam menjelang; dan itu terus berlangsung selama 40 hari.
Saya tidak pernah berpikir untuk menanyakan semua ritus tersebut. Bagi saya, selama ari-ari tersebut dikubur dan tidak dimakan anjing atau kucing itu sudah cukup. Bagaimanapun juga ari-ari itu yang menemani si bayi selama dalam rahim. Saya juga sering mendengar cerita tentang ari-ari yang dibuang ke laut sehingga ketika si bayi besar, dia selalu tidak pernah ada di rumah; berpetualang, mencari ari-arinya yang entah ada dimana.
Dan untuk yang kedua kalinya, saya mencuci ari-ari. Saya tersenyum dan dengan lembut meniriskan darah yang masih ada. Tapi kali ini saya tidak menghitung tonjolan yang ada di tali ari-ari. Setelah segalanya bersih, saya serahkan pada ibu mertua yang membungkusnya rapi. Bapak mertua saya menggali lubang dan menanamnya disamping tangga. Ada dua ari-ari yang ditanam berdekatan, dan ini adalah yang ketiga. Dan, beberapa bulan lagi akan menyusul satu karena istri adik ipar saya akan melahirkan.
Mmm…kini selama 40 hari, cungkup berlampu 5 watt menyala terang. Untung anak kedua saya lahir diakhir bulan Syaban, sehingga masa 40 hari saya lewati sambil menyenandungkan Surat Yasin setiap malam disambung ibadah sahur. Tentu tanpa rasa takut seperti yang istri saya alami ketika anak pertama lahir. Ketika itu, malam pertama dia di rumah, ada suara perempuan bersenandung lirih tanpa terlihat wujudnya.
Lebak Bulus, 4 September 2008