Captiva 2.0 VDCI
Meski dibayang-bayangi kualitas solar yang busuk, Captiva 2.0L VCDi tetap percaya diri masuk Indonesia. Andi Wahyudi merasa segar melihat lenggak-lenggoknya.
Ada yang membuat saya merasa geli –dan ingin tertawa ngakak- ketika mengikuti test drive Captiva diesel 2.0L VCDi (variable geometri commonrail diesel injection) beberapa waktu lalu. Awalnya bermula ketika para rombongan jurnalis menuju mobil yang akan di tes. Pada beberapa mobil Captiva diesel 2.0L VCDi tertulis kalimat : 7 seater turbo diesel SUV. Never underestimate Captiva power and torque. Jujur, saya ingin ngakak membaca tulisan itu, tapi saya tahan. Nggak enak kan siang-siang tertawa sendiri tanpa diketahui alasannya. Bisa-bisa saya dianggap gila oleh personil General Motors Auto World Indonesia (GMAWI) dan dikirim paksa ke rumah sakit jiwa.
Sambil duduk dibaris kedua –saya memutuskan jadi penumpang dulu- saya sesekali tersenyum ketika mengingat tulisan tersebut. Oh My God, betapa tidak pede-nya GMAWI dengan tulisan tersebut. Baiklah, di mata saya, tulisan itu seperti menampilkan rasa putus asa pada kemampuan mesin diesel yang diproduksinya. Hey, saya tahu, anak buah Mukiat Sutikno (Managing director GMAWI) pasti menganggap saya konyol atau bodoh tapi saya tidak peduli. Menurut saya, jangan pernah membuat sebuah tagline dengan kata-kata yang berkonotasi negatif. Kata ‘underestimate’ menurut saya berkonotasi pada hal yang sifatnya kurang baik, negatif atau yang sejenisnya. Apalagi ditambah kata ‘never’. Meski saya tahu jika negatif bertemu negatif maka akan menjadi positif. Tapi, ini kan bukan matematika. Tapi siapa peduli? So, jadi saya nikmati saja perjalanan test drive rombongan kali ini.
Selepas dari Kemang Village sebagai titik keberangkatan, rombongan terjebak macet di sepanjang jalan Antarasari. Saya cuma termangu sambil mendengarkan celotehan di pesawat radio. Rekan jurnalis yang mengemudikan mobil memuji kemampuan diesel Captiva, “Responnya juga lumayan nih. Nggak lemot,” katanya. Saya cuma nyengir sambil mengamati interior mobil diesel ini. Mmm, nggak ada bedanya dengan versi 2.4L bensin, pas-pasan. Padahal saya berharap, mobil ini menyuguhkan suasana interior yang sedikit beda dengan versi bensin, paling tidak kotak kosong di konsol tengah bisa dijejali sesuatu. Tapi, nyatanya tidak dan dibiarkan kosong. Eh, tapi lumayan kok buat menyimpan uang receh atau tiket tol, juga permen, pulpen atau sekotak kondom.
Matahari tepat diatas kepala ketika rombongan memasuki jalan tol lingkar luar Jakarta. Saya masih enjoy duduk di baris kedua. Memasuki jalan tol Cipularang, rekan-rekan dari TV mulai mengambil gambar bergerak. Kaca pintu belakang dibuka lebar dan dengan santainya para juru kamera membidik Captiva yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Betapa beruntungnya mereka lantaran kaca pintu belakang Captiva bisa dibuka lebar tanpa harus membuka pintunya. Well, Captiva rupanya cukup mengerti dengan cara kerja jurnalis.
Di jalan bebas hambatan itu, Captiva dibesut dalam kecepatan rata-rata 100-120 kpj. Tapi bukan itu yang menyenangkan bagi saya, melainkan dengkuran khas diesel nyaris tak terdengar. Beberapa kali saya menajamkan pendengaran ketika terdengar bunyi samar yang masuk ke kabin. Tapi setelah ditelisik, itu rupanya bunyi gesekan ban, sedangkan dengkuran diesel seolah raib tak berbekas. Walah, saya cuma bisa mengernyitkan dahi.
Selepas makan siang –yang kesiangan karena kami begitu asyik menguji Captiva- giliran saya dibelakang kemudi. Jalur Puncak jadi ajang buat menguji mobil ini. Begitu membejek gas, mata saya langsung segar. Wups, semburan torsinya terasa dibadan. Dan dengan entengnya mobil ini merayapi jalur Puncak tanpa harus ngos-ngosan. Maklum saja torsinya diklaim mencapai 320 Nm pada 2.000 rpm dan power 150 bhp pada 4.000 rpm. Damn! saya begitu nafsu merasakan Captiva melenggak-lenggok penuh semangat. Beberapa kali overtaking dijalan menanjak dan Captiva sanggup memenuhi gaya mengemudi saya. Mmm, mobil ini bakal menjadi ancaman serius bagi brand lain yang begitu bangga dengan mesin dieselnya. Ini saran saya: mulai sekarang buatlah proyek serius untuk menandingi Captiva 2.0L VCDi ini!
Merasa penasaran, keesokan harinya saya menguji mobil ini di jalur menuju Javana Spa. Jalannya menanjak terjal dan berkelok. Saya hentikan Captiva dalam posisi menanjak, keluar dan menghisap sebatang rokok. Selang beberapa menit saya kembali ke kabin Captiva dan mengaktifkan mesinnya. Dari posisi tersebut, Captiva tidak sedikitpun kesulitan membawa saya ke tikungan menanjak berikutnya. Saya sempat melihat seorang jurnalis yang menguji Captiva hingga terdengar decitan-decitan ban yang bikin jantung Fajar Harianto (public relation GMAWI) berpacu lebih cepat dari biasanya. Eh, saya juga ingin membuat Fajar menderita lagi tapi rasanya tak tega jika melihat Captiva ini terguling sia-sia. Jadi beruntunglah saya masih bisa mengendalikan libido itu.
Oke, bisa saya simpulkan kalau Captiva 2.0L VCDi ini bisa diandalkan dalam melahap jalan menanjak dan berkelok. Juga kelengkapan keamanan yang difasilitasi sabuk pengaman, airbags dan seperangkat pendukung keamanan lainnya. Tapi jika mengingat apa yang menjadi fokus dalam workshop diesel yang diadakan oleh GMAWI beberapa minggu sebelum test drive ini harus juga diketahui oleh calon konsumen Captiva diesel.
Persoalannya adalah sejauhmana kualitas bahan bakar yang ada di Indonesia bisa dikonsumsi dengan baik oleh diesel rakitan GM ini. Sudah bukan rahasia lagi jika kualitas solar di tanah air masih sangat rendah. Kadar sulfurnya sangat tinggi sehingga bisa mengganggu kinerja mesin. Pihak GMAWI sendiri merekomendasikan penggunaan Pertadex untuk konsumsi diesel produksinya. Hanya saja, kemampuan Pertamina dalam menyuplai bahan bakar itu ke seluruh Indonesia masih minim. Infrastrukturnya jauh dari yang diharapkan. So, bagaimana solusinya?
Harry Yanto, Business Planning & Product Manager GMAWI mengatakan, “Kami sedang mencoba merumuskan kerjasama dengan Pertamina misalnya dalam menyiapkan Pertadex di jaringan showroom kami sehingga konsumen kami bisa mendapatkan solar yang berkualitas baik untuk mobilnya.”
Tapi bagaimana jika tetap sulit mendapatkan Pertadex? Suwadji Wirjono, Aftersales Director GMAWI, “Jika sulit dan tidak ada pilihan, gunakan saja solar yang ada. Konsekuensinya, pemilik mobil harus ekstra rajin memeriksakan kondisi mobilnya di bengkel resmi GM.”
Komentar :
SUV diesel yang bisa diandalkan. Meski interiornya pas-pasan, tapi torsi dan powernya cukup menggoda.
Harga : Rp 289.500.000
Performa : 2.0 VCDi, 5 speed tiptronic
Tech : 2.000 cc, 150 hp/4.000 rpm, 320 Nm/2.000 rpm.