Oleh: andi | Februari 4, 2008

John James Rambo

Pernah nonton Rambo?
Kali ini memasuki seri IV. Apresiasi saya terhadap film ini sangat jauh dari yang diharapkan. Kali ini Rambo “lebih berdarah”, sedikit melankolis serta cukup sadis -meski seri sebelumnya juga sadis tapi mampu diredam dengan halus, juga terlalu membodohkan penonton.

Rambo IV mengambil setting gejolak politik di Burma. Bukan kebetulan pada menit-menit awal menampilkan aroma kekerasan dan korban gonjang ganjing politik di negara tersebut. Mayat yang membusuk dan dikerubuti lalat, wajah hancur, kaki putus, ditampilkan secara jelas, bahkan cenderung emosional dan provokatif.

Saya tidak tahu apakah film ini dibuat sebelum atau pasca kerusuhan politik di Burma. Tapi secara kedekatan waktu, film ini memiliki nilai yang cukup baik. Meski pada sisi lain, penggambaran peristiwa kerusuhan politik di Burma tidak terekam dengan baik -lebih pada satu perspektif saja, yaitu kebrutalan dan kekejian pada kemanusiaan. Nah, kesubjektifan personal inilah yang diangkat Sylvester Stallone yang juga merangkap sebagai sutradara.

Rambo IV ini sangat terasa tumpul. Rambo II menurut saya lebih sanggup menggugah emosi orang, meski tetap dalam kerangka subjektifitas nasionalis -dimana Amerika adalah segalanya. Tapi konstruksi cerita sanggup dibangun dengan halus dan menarik. Demikian juga dengan Rambo III yang menampilkan kedigjayaan Amerika dengan membombardir pasukan Uni Sovyet di Afghanistan. Dan lagi-lagi Rambo keluar sebagai juara. Dia memenangkan perang dengan begitu mudahnya.

Ketumpulan Rambo IV ini, sangat terasa dengan alur cerita yang terasa begitu cetek. Postur Rambo sebagai eks. tentara memang dekat dengan keperkasaan dan Rambo memang perkasa. Tapi sayang pada Rambo IV ini keperkasaan itu sekejap hilang. Konflik psikis yang dialami Rambo walau terasa berat tapi kurang menggambarkan keputusasaan Rambo yang akhirnya lari kepedalaman Thailand (ini juga jadi pertanyaan mengapa ke Thailand? Meski negara itu menjadi jalur masuknya Rambo ke Vietnam pada Rambo II).

Ironinya, kekerasan dan keperkasaan Rambo luluh lantak lantaran wanita. Mungkin Syl ingin menggambarkan walau bagaimanapun juga Rambo adalah laki-laki biasa yang punya rasa kasih sayang -hey, dia juga bisa membunuh tanpa ekspresi! Kekerasan Rambo yang melarang kelompok gereja memasuki Burma sekejap musnah walau ketika bernego dengan salah seorang pimpinan rombongan -laki-laki- Rambo bak karang menolak ajakan untuk memasuki wilayah konflik di Burma. Damn! Wanita memang perkasa, dan Rambo pun tunduk disudut kerling wanita.

Yang menyebalkan, Rambo seperti kehilangan arti. Walau dia lebih hebat dibanding sepasukan tentara bayaran yang disewa pihak gereja di Colorado untuk membebaskan sandera yang ditawan pasukan Burma –ups, ternyata gereja juga bisa menghalalkan pertumpahan darah. Rambo tidak lebih dari sekedar boneka pencabut nyawa. Konflik batin yang ada dibenak Rambo tidak bisa tertangkap jelas dimata penonton kecuali penggemar berat yang mengikuti sekuel Rambo. Dan saya yang mengikuti perjalanan Rambo merasakan betapa Rambo kini semakin tua dan putus asa.

Alur ceritanyapun bisa ditebak. Rambo berhasil memimpin tentara bayaran memasuki barak pasukan Burma dan membebaskan tawanan. Tak ada yang istimewa ketika adegan pembebasan ini, kecuali adegan sepasukan tentara Burma yang memperkosa enam perempuan tawanan secara massal. Dan tak segan-segan menampilkan gambar dada perempuan yang diperkosa walau hanya sekejapan mata –woi, dimana LSF? Juga adegan dimana jenderal tentara Burma “menggarap” anak laki-laki untuk memuaskan birahinya. Well, saya hanya bisa geleng kepala menyaksikan adegan itu. Rambo IV tidak hanya dangkal, tapi juga melecehkan.

Adegan pertempuran juga agak kurang masuk akal –meski film-film Rambo sarat dengan pembodohan- tapi cukuplah menghibur dengan hadirnya sedikit efek visual yang mengerikan: kepala meledak, kaki hancur dan cipratan darah yang mengenai kamera. Rambo memang bukan film bermutu meski cukup menghibur dan laris.

Yang agak menghibur ketika diakhir cerita, Rambo kembali lagi ke kampung halamannya di Amerika. Adegan yang hanya beberapa detik itu bagi saya cukup menyentuh emosi. Bukan apa-apa, sebab saya teringat Rambo I yang baru pulang tugas dari Vietnam dan kemudian mengamuk karena tidak diterima dengan baik di lingkungannya –konflik sosial yang dikemas menarik. Mmm, akankah Rambo V nanti akan mengulang sejarah? Atau hanya akan mengulang kedunguan yang diperlihatkan pada Rambo IV. Kita tunggu saja.

Lebak Bulus, 040208, 12:43

Kenal Rambo sejak SD.

Tentang John James Rambo:
Lahir 6 Juli 1947 di Bowie Arizona Amerika Serikat. Ayahnya adalah keturunan Indian Navajo dan ibunya keturunan Jerman. Lulus dari Rangeford High School tahun 1965 dan masuk US Army pada 18 Januari 1966 di usia 18 tahun. September 1966 dikirim ke Vietnam Selatan. Tahun 1967 kembali ke Amerika dan masuk pendidikan Special Forces (Green Berets) di Fort Bragg, North Carolina.
Akhir 1969 Rambo dikirim kembali ke Vietnam. November 1971 ditangkap tentara Vietnam Selatan didekat perbatasan Cina-Vietnam dan menjadi tawanan perang. Tahun 1972 Rambo berhasil melarikan diri dari kamp tahanan dan setelah lepas dikirim kembali berperang.
Tanggal 17 September 1974 Rambo diberhentikan sebagai tentara.
Ketika kembali ke Amerika, Rambo menemukan banyak veteran Vietnam yang mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat Amerika. Mereka dibenci dan dipanggil sebagai “Baby Killer”. Kondisi tersebut melahirkan Post-Traumatic Stress Disorder yang banyak dialami veteran perang, termasuk John James Rambo.
Rambo mendapatkan penghargaan Silver Stars, Bronze Stars, Purple Hearts, Distinguished Service Cross dan Medal of Honor.

Oleh: andi | Januari 30, 2008

My Red Sempak

Beberapa hari lalu, ketika sedang asyik pup, saya melihat sempak merah saya yang tergantung. Hahaha…saya jadi malu kalau melihat sempak itu. Sebab dia menjadi saksi atas berbagai kenakalan yang saya lakukan dulu. Sebenarnya sempak itu sudah out of date, tapi lantaran sempak lainnya masih dicuci akhirnya saya pakai juga sempak merah itu. Agak sedikit longgar tapi tetap nyaman dipakai dan nggak selip.

Btw, sejak masih kecil hingga selesai kuliah, saya paling anti beli sempak. Semuanya dibelikan ibu dan pacar saya. Mulai dari merek Rider, GT Man sampai merek yang gak jelas. Baru setelah saya bekerja, saya beli sempak sendiri. Itupun baru beli setelah diingatkan ibu saya yang sering ngeliat sempak saya sudah pada melar dan jahitannya berantakan. Bagi saya sih nggak masalah jika sempak itu sudah pada amburadul yang penting selama itu nyaman dipakai, gak ada masalah. Tapi rupanya ibu saya paling sebal kalau liat sempak saya dijemur. “Kayak orang susah aja pake sempak bolong2,” katanya ketus.

Soal sempak merah itu memang bikin saya teringat akan kegilaan lalu. Mungkin, hanya membunuh orang saja yang belum saya lakukan bersama sempak itu, selebihnya barangkali sudah pernah dilakoni. Duh, kalau ingat sepak terjang saya bersama sempak itu, saya jadi malu sekaligus khawatir. Jangan2, di akhirat nanti sempak itu akan menjadi saksi yang memberatkan saya atas segala perbuatan dosa yang saya lakukan. Ampuuunnn Tuhan…!!!

merah, ijo dan abu-abu, warna favorit sempak saya, 301006

Oleh: andi | Januari 30, 2008

Kecoa

Saya punya teman, namanya Kecoa. Dia suka dipanggil begitu. Awalnya saya tidak tahu mengapa. Tapi setelah menyelami pemikiran serta kisah-kisah sentimentilnya, saya mahfum jika dia lebih suka dipanggil Kecoa.

Si Kecoa ini adalah realitas atas kumpulan sajak-sajak yang tercecer di belantara hijau. Dia adalah bioskop tua penuh coretan. Diamnya adalah kontemplasi. Tawanya adalah kejujuran. Dan lenguhannya adalah ketidakberdayaan pada senja yang diam-diam menikamnya. Tapi dia lebih sering tertawa. Meski tak tahu tertawa untuk siapa.

Di buku catatan itu, Kecoa mencari Hanin, Ajo dan Yin Yang. Lalu dikejauhan suaranya membahana,”Keep Rolling. Jangan berhenti sampai ada darah dan nyawa meregang!” Kemudian anjing-anjing kapitalis itu tertawa riang sambil menggenggam bintang lembaran beraroma tajam.

Sekarang Si Kecoa sedang jatuh cinta pada malam dan hujan. Malna, Sapardi dan Seno ditinggalkannya dalam goa yang lembab. Dia lebih senang bercengkrama dengan ribuan laron yang keluar dari catatan kaki jutaan tahun silam. Dan entah sampai kapan Antigone berharap cemas menunggu Haemon yang akan mengeluarkannya dari kuburan batu.

bumi kwitang yang bersejarah, 081206

Oleh: andi | Januari 30, 2008

Harus Belajar Pada Singapura

Singapura punya nyali untuk menggelar boat show berkelas internasional. Sementara kita masih berkutat pada persoalan remeh temeh. Seharusnya kita belajar pada Singapura. Meski kecil tapi sanggup menampung kebutuhan pasar boat internasional.

Asumsi yang mengatakan bahwa boat hanya dimiliki kaum berkantung tebal memang benar adanya. Tapi pada sisi lain bisnis boat ini tidak kalah seru untuk dicermati. John Lundin, Managing Director North Sea Boats pernah mengatakan, “Industri boat Indonesia akan maju jika banyak orang terlatih dengan manajemen yang baik, karena pasar boat di Indonesia tidak terbatas.”

Statemen tersebut rasanya tidak salah dikemukakan. Sebagai negara kepulauan, salah satu sarana transportasi yang mumpuni menghubungkan antarpulau adalah boat selain feri atau kapal. Cobalah lihat di belahan timur Indonesia. Disana, transportasi antarpulau masih dikuasai oleh boat dengan kapasitas angkutan beragam. Istilah perahu Johnson yang mengutip dari nama produk mesin tempel, Johnson, sudah tidak asing lagi digunakan untuk merujuk pada alat transportasi antarpulau itu.

Boat memang punya banyak kegunaan. Selain sebagai alat transportasi, boat juga berfungsi sebagai sarana patroli bagi pihak keamanan. Pada sebagian orang, boat bisa menjadi alat menaikkan gengsi sekaligus memenuhi tuntutan hobi seperti mancing atau aktifitas pantai lainnya.

Nah, seharusnya potensi ini digali secara maksimal. Peta industri boat saat ini memang belum sepopuler bisnis kendaraan roda empat. Tapi bukan tidak mungkin akan berkembang pesat. Kalau kita nongkrong di Marina Ancol, misalnya, akan banyak ditemukan boat-boat yang bersandar. Kebanyakan memang milik pribadi. Tapi diantara deretan boat tersebut bisa dijumpai boat yang berfungsi sebagai puskesmas keliling yang digunakan untuk mengunjungi pulau-pulau kecil di kepulauan Seribu. Artinya, fungsi boat bisa dimaksimalkan untuk beragam kepentingan.

Harga boat yang selangit memang masih jadi kendala. Tapi kalau mempertimbangkan aspek fungsionalnya sudah pasti sangat signifikan dengan uang yang dikeluarkan. Persoalannya, bagaimana agar industri boat kita bisa cepat populer di mata masyarakat. Merubah paradigma masyarakat tentang kelautan pasti butuh waktu lama. Yang perlu segera dilakukan adalah merangsang supaya pelaku usaha ini diberi ruang seluas-luasnya untuk berkembang.

Pemerintah, melalui lembaga-lembaga yang berhubungan dengan transportasi laut, harus bisa membantu boat builder untuk memproduksi boat-boat yang layak digunakan bagi kepentingan transportasi laut. Misalnya saja dengan memberikan peluang ikut tender pemenuhan boat untuk departemen terkait.

Bukan hanya itu saja, pemerintah juga perlu memberikan berbagai keringanan-keringanan bagi boat builder seperti kemudahan mendapatkan bahan baku untuk boat atau keringanan pajak bagi perangkat-perangkat yang diimpor. Pemerintah harus juga membuat kebijakan mendukung lahirnya industri turunan dari industri boat itu sendiri. Agar kesinambungan industri ini tetap bisa berlanjut.

Laporan utama kali ini akan mengungkapkan sisi lain dari sebuah industri boat. Kesan tentang boat dengan segala pernak-perniknya menjadi gambaran yang jelas atas keberadaan kendaraan air ini. Pernahkah terpikir bahwa sebuah boat bisa menggerakan munculnya industri lain seperti aksesoris boat, penyewaan dermaga hingga usaha penataan interior boat.

Industri boat ini, cepat atau lambat harus segera dikelola secara profesional. Lihatlah Singapura. Negara kecil dengan jumlah penduduk tidak jauh beda dengan Jakarta sudah sanggup mengakomodir kepentingan pelaku bisnis boat dalam skala luas. Gelaran boat Asia yang menampilkan industri boat secara internasional sudah dilakoni negara ini. Padahal kalau melihat tipografi negaranya, Singapura tidak layak disebut sebagai negara maritim.

Tapi kita lagi-lagi harus belajar pada Singapura. Meski negaranya kecil tapi sudah sanggup menampung kebutuhan internasional. Ujungnya adalah bergeraknya perekonomian Singapura dengan menjadi pelopor industri boat terbesar di Asia. Ah, seharusnya kita malu dikangkangi Singapura.

Oleh: andi | Januari 30, 2008

Sanggup Biayai Satu Klub Bola

Hobi memelihara ikan hias laut dan terumbu karang belum sepopuler sepak bola. Tapi jika bisnis ini digarap profesional, sanggup membiayai kelangsungan satu klub bola di Indonesia. Bisnis ini juga menyimpan persoalan yang sama peliknya dengan sepak bola kita.

Nafas ini agak tertahan begitu mengetahui ada ikan hias laut yang harganya mencapai US$ 550. Lebih menyesakan lagi takkala mendapatkan informasi kalau negara Indonesia yang kita cintai ini hanya kebagian 7,5 % market share dalam perdagangan ikan hias dunia, sementara tetangga kita Singapura kebagian jatah sebanyak 22,8 %. Ironinya, 80 % ikan yang dijual Singapura berasal dari Indonesia!

Lagi-lagi kita kembali dihadapkan pada realitas ketidakberdayaan atas potensi kelautan Nusantara yang sangat berlimpah. Pemerintah yang diharapkan sanggup menjadi tulang punggung untuk melindungi kekayaan laut malah sibuk sendiri. Pemenuhan kebutuhan sektoral menjadi prioritas.

Lihat saja, saat ini terjadi perbedaan pandangan dalam masalah pengelolaan ikan hias laut. Departemen Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) masih merasa memiliki kewenangan untuk mengurusi soal ini. Padahal Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Peningkatan Hasil Perikanan (P2HP) merasa urusan itu menjadi tanggung jawabnya. Alhasil, ibarat bus kota, kini dua instansi pemerintah tersebut saling tarik menarik kepentingan.

Pada sisi lain, para pelaku bisnis ikan hias laut mengeluhkan perhatian pemerintah. Terutama kurangnya dukungan dalam memperlancar proses pengiriman ikan dan koral ke luar negeri. “Kami pernah tidak pernah kirim barang karena tidak mendapatkan seat penerbangan. Padahal permintaan luar negeri cukup besar,” ujar Handoko, pengusaha ikan hias laut di Selatan Jakarta.

Selain terganjal jadwal penerbangan, soal tarif pengiriman untuk ekspor maupun pengiriman dalam negeri cukup mencekik pengusaha. “Biaya kargo di Indonesia paling mahal di Asia,” tandas Haryati pemilik toko ikan hias. Pungutan liar juga jadi persoalan klise. Belum lagi masalah pengurusan dokumen yang makan waktu lama. Berbeda dengan Singapura yang pengurusan izinnya cukup mudah dan jauh dari pungli. “Kalau usaha ini didukung penuh pemerintah pasti dapat berkembang melebihi Singapura. Sebab, di Indonesia jenis ikan hias dan koralnya paling banyak,” ujar Ken Tjandra, pengusaha ekspor impor ikan hias laut.

Apa yang dikatakan Ken Tjandra memang benar. Sebagai negara kepulauan yang diapit dua benua dan dua samudra, Indonesia memiliki kekayaan laut yang sangat besar. Mulai dari ujung Sumatera hingga Papua, tersebar ribuan jenis ikan, koral dan terumbu karang beraneka jenis.

Di utara pesisir Indramayu, Jawa Barat misalnya, banyak ditemukan jenis ikan yang cukup digemari seperti ikan Dokter (Lebroides demidiatus), Kakak tua (Callyodon ghabbon), Zebra (Dendichirus Zebra) dan Kupu-kupu (Cheetodon Chysurus).

Perairan Bali juga kaya dengan habitat laut. Disana ada sekitar 420 jenis ikan hias, antara lain Dakocan Hitam (dascyllus trimaculatus), Angel BK, Angel Batman (pamacanthus imperator), Angel Napoleon (Pamanchatus Xanthometapon) dan Tiger (Balistotodes Conspicilliun). Bahkan di Indonesia Timur terdapat jenis ikan endemik yang hanya bisa ditemukan di daerah tersebut. Misalnya saja Ambon scorpionfish Pteroidichthys amboinesis. Spesies ini merupakan spesies langka yang hanya bisa ditemukan di perairan Ambon.

Kebutuhan ikan hias laut terus mengalami peningkatan. Terjadinya peningkatan ini bisa jadi karena ikan hias laut dianggap memberikan kontribusi bagi terapi kesehatan. Bagi sebagian orang, memandang ikan dan terumbu karang bisa memberikan efek ketenangan. “Ketika lelah sehabis kerja, melihat akuarium ikan hias air laut terasa tenang. Enak sekali,” ungkap Jamal Hasan, penggemar ikan hias.

Warna-warni alami, bentuk dan gerak-gerik flora dan fauna yang ada di akuarium menjadi obyek fisik yang indah. Efeknya, kesan natural tersebut memberikan rileksasi bagi yang melihat. Alhasil, segala bentuk ketegangan akibat kesibukan sehari-hari cenderung berkurang. Maka, tak heran jika dibeberapa perkantoran tersedia akuarium ikan hias laut dalam ukuran besar.

By the way, asal tahu saja, di Amerika sana bisnis ikan hias laut ini bisa menghasilkan sekitar US$ 4 miliar per tahun. Wow!

Oleh: andi | Januari 30, 2008

Dari Kontroversi Sampai Tuduhan Kolusi

Gonjang-ganjing seputar harta karun alias Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) kembali menyeruak, apalagi ketika banyak media menurunkan laporan perihal kontraversi BMKT di Cirebon yang dinilai ilegal. Sontak, laporan tersebut membuat banyak pihak ketar-ketir.

Ketika LAYAR meminta informasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan yang dikirim via surat lewat Pusat Data dan Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), hingga tulisan ini dibuat, tidak ada jawaban. Sekretaris I Panitia Nasional (Pannas) BMKT Prof.Ir.Widi A. Pratikto, M.Sc, Ph.D yang coba ditemui, juga tidak memberikan respon. “Untuk sementara beliau tidak mau berkomentar soal BMKT,” ujar Kabag Hukum Organisasi dan Humas, Ir.Aris Kabul Pranoto, Msi.
Soal BMKT sangat pelik. Pertama, mengenai jumlah atau nilai barang yang tenggelam di dasar laut. Sampai saat ini belum ada hitung-hitungan yang pasti mengenai jumlah kapal yang tenggelam atau titik-titik dimana kapal tersebut karam termasuk berapa besar nilai rupiahnya. Namun dalam Buletin yang dikeluarkan oleh Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) DKP disebutkan ada 463 lokasi kapal tenggelam. Selanjutnya, baru 10% saja yang dimanfaatkan.

Kedua, mengenai besarnya investasi yang dikeluarkan untuk mengangkat BMKT. Mulai dari kegiatan survei hingga pengangkatan yang makan waktu, tenaga dan biaya. Sebagai gambaran, sebelum melakukan pengangkatan, Panitia Nasional (Pannas) BMKT “mewajibkan” setiap pengusaha yang terjun ke bisnis ini menaruh uang jaminan Rp 500 juta. Belum dihitung biaya sewa kapal, bahan bakar, logistik dan tetek bengek lainnya. Tak salah jika bisnis ini sangat padat modal.

Ketiga, aturan hukum yang tumpang tindih. Nah, disinilah persoalan yang sangat krusial. Pasalnya, pengangkatan BMKT di Cirebon yang dilakukan oleh PT Paradigma Putra Sejahtera (PPS) dinilai sebagai kegiatan ilegal. Tak heran jika Bareskrim Mabes Polri turun tangan dan menangkap dua penyelam asing yang bekerja untuk PPS, Fred Dobberphul dan Jean Paul Blanc. Polisi juga menggeledah dan menyita gudang penyimpanan di Pamulang dan Lebak Bulus.

Padahal, oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi yang juga Ketua Pannas BMKT, kegiatan PT PPS di Cirebon adalah sah dan sesuai dengan aturan main yang ditetapkan Pannas BMKT. Namun disisi lain Kepolisian tetap menganggap kegiatan tersebut melanggar hukum sebagaimana termaktub dalam UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Alih-alih akur, persoalan tersebut kini semakin memanas, bahkan kabarnya Bareskrim Polri semakin meningkatkan intensitas penyidikannya.

Terbentuknya Pannas BMKT bermula di era Soeharto berdasarkan Keppres No. 43 Tahun 1989 dengan ketua Pannas dijabat Menkopolkam. Keputusan tersebut dicabut pada zaman Gus Dur dengan Keppres No 107 tahun 2000, sekaligus menetapkan ketua Pannas dijabat oleh Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan (sekarang Departemen Kelautan dan Perikanan) dibantu oleh Mendiknas (Wakil Ketua I) dan Kepala Staf TNI-AL (Wakil Ketua II).

Jeda waktu diantara dua Keppres tersebut, lahirlah UU No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Disinilah mulai terjadi kesimpangsiuran mengenai siapa yang berhak mengelola BMKT karena menurut UU tersebut –yang diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No.10 Tahun1993- yang berhak mengelola BMKT adalah Menteri Kebudayaan.

Perbedaan materi produk hukum ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah Keppres bisa lebih kuat dibanding UU? Sebab sebagaimana diketahui, posisi UU lebih tinggi dibanding Keppres. Lalu bagaimana akhir kontraversi ini ketika di lapangan terjadi benturan pemahaman mengenai aturan hukum yang dialami dua instansi negara, khususnya pada kasus Cirebon? Polri menangkap orang yang diduga melakukan tindakan ilegal berdasarkan UU No.5 Tahun 1992 dan PP No.10 Tahun 1993, sedangkan Pannas BMKT mengacu pada Keppres No 107 Tahun 2000 dan mengatakan pengangkatan BMKT di Cirebon adalah sah. Alhasil sampai sekarang keduanya masih berseteru persepsi.

Dari perspektif lain, BMKT menyimpan potensi bisnis menggiurkan meski padat modal. Bayangkan saja, ada satu vas bunga dari Dinasti Song (abad XI sampai XII) yang laris manis seharga US$ 1.731.250. Bahkan tahun 2004, Tilman Walterfang berhasil mengeruk isi Tan Cargo dan menjualnya ke Singapore Tourism Board dengan nilai total US$ 48 juta tanpa sedikitpun Indonesia mendapatkan bagian. Padahal Tilman mengambilnya di perairan Batu Hitam Belitung sejak tahun 1998. Untuk memuluskan rencananya tersebut, kabarnya Tilman berusaha menyuap beberapa orang yang berwenang untuk legalitas BMKT sebagai salah satu syarat pelelangan.
Lepas dari persoalan bisnis atau aturan hukum yang tumpang tindih, persoalan BMKT harus cepat diselesaikan. Jangan sampai situasi carut marut ini digunakan oleh sebagian oknum untuk meraup keuntungan pribadi. Sebab berdasarkan sumber LAYAR yang enggan disebutkan namanya, indikasi itu mulai tercium, terutama kalau memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi mulai dari zaman Pannas BMKT dibawah Menkopolkam sampai sekarang. Juga bisik-bisik arus bawah tentang adanya kolusi yang santer terdengar di DKP.
Harta karun memang bernilai tinggi, tetapi yang jauh lebih penting adalah anggapan dunia internasional bahwa Indonesia merusak sejarah bangsanya sendiri. Sebagaimana diungkapkan Horst Liebner, ilmuwan bule yang bekerja di Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP, “Nilai ekonomis BMKT tidak hanya dinilai dari banyaknya uang yang didapat. Biarpun Anda punya US$ 20 juta, Anda bisa habiskan besok di mall. Tetapi jika Anda punya butir-butir kebanggaan atas sejarah bangsa Anda, biar 10 tahun mendatang tidak bisa Anda belanjakan. Dia akan tinggal di dalam hati dan menjadi sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada uang.”

Oleh: andi | Januari 30, 2008

Gaple

Pernah bermain gaple?
Selama beberapa tahun ini, saya keranjingan main gaple. Biasanya di Warung SK. Kalau Anda menuju Depok melalui Kampus IISIP, Anda bisa melewati warung itu. Lokasinya disebelah kanan jalan setelah pintu perlintasan kereta api. Biasanya kami mulai bermain pukul 20.00 tapi belakangan ini permainan dimulai pukul 21.00 atau 22.00 sampai sekitar pukul 02.00 dinihari. Bahkan diwaktu-waktu tertentu bisa sampai menjelang subuh.

Yang bermain tentu saja teman2 saya. Permainan dilakukan secara berpasangan tanpa memandang jenis kelamin. Setiap pasangan mempunyai nama yang unik. Seperti pasangan B&B, Faena, Badman, Well Hung, Sir William From Sallesburry, PSAB, The Legend, AE, Preman, etc…yang disesuaikan berdasarkan kesepakatan tiap pasangan.

Dan tahukah Anda…dari permainan ini saya jadi bisa membaca karakter seseorang. Yup, ingat permainan ini kan berpasangan. Jadi setiap pasangan harus bisa saling kerjasama. Terkadang harus mengalah demi kelancaran permainan pasangan kita agar bisa masuk dan memenangkan pertandingan. Setiap pemain harus bisa “membaca” kartu pasangan dan lawannya.

Ini sangat penting agar pemain bisa melakukan manuver-manuver untuk menang. Kadang untuk menang tidak harus menghabiskan kartu. Cukup dengan membiarkan lawan membuat kesalahan misalnya saja lawan menggaple kita tapi angka yang kita miliki lebih kecil dibanding angka lawan. Itu berarti menang. Yang paling menyenangkan jika kita bisa memasukan balak 6 dan menyambung antara kartu kiri dan kanan. Kami menyebutknya “Kirkuk” (kiri kanan masuk). Kalau sudah begitu pemenangnya mendapatkan point mutlak, 200.

Permainan ini membuat saya paham karakter lawan dan pasangan saya. Meski itu bukan menjadi ukuran mutlak untuk menilai seseorang, tapi saya bisa tahu bagaimana kondisi seseorang saat dihadapkan pada hal-hal yang sangat krusial. Menghadapi tekanan, baik dari lawan maupun pasangan mainnya. Persoalannya, kadang saya sering gagal membaca permainan lawan dan pasangan saya sehingga sering kalah telak. Entah mengapa begitu. Tapi kadang, jika bermain tanpa beban atau tidak terlalu dipikirkan menang atau kalah, saya sering mendapatkan kemenangan mutlak. Mmm…aneh ya.

Wah…bermain gaple di warung itu memang unik dan menyenangkan. Meski akhir2 ini kami tidak setiap hari bermain. Mungkin karena kesibukan ditambah beberapa personel gaple sudah berkeluarga sehingga akses untuk bermain sangat terbatas. Tapi kalau “libido” gaple sudah mencapai ubun-ubun, beberapa diantara kami pasti akan mencari cara supaya bisa menyelinap keluar rumah dan bermain gaple meski resikonya bakal dicuekin sang istri. Hehehe…

Life is like a domino. We know the number, but we dont know what happen next…

Oleh: andi | Januari 30, 2008

Sabar

Sabar berarti juga membuat kita tidak putus asa. Orang sabar juga akan membuat kuat daya tahan diri. Orang sabar adalah orang yang punya kemampuan berpegang teguh kepada pegangan hidup dan prinsip-prinsipnya. Sabar membuat kita mau menerima kekuatan dan kelemahan kita. Membuat kita jadi pemaaf. Dan yang paling penting, menjadi orang yang rela diatur oleh aturan Allah SWT. Tawakal.

« Newer Posts

Kategori