Pernah nonton Rambo?
Kali ini memasuki seri IV. Apresiasi saya terhadap film ini sangat jauh dari yang diharapkan. Kali ini Rambo “lebih berdarah”, sedikit melankolis serta cukup sadis -meski seri sebelumnya juga sadis tapi mampu diredam dengan halus, juga terlalu membodohkan penonton.
Rambo IV mengambil setting gejolak politik di Burma. Bukan kebetulan pada menit-menit awal menampilkan aroma kekerasan dan korban gonjang ganjing politik di negara tersebut. Mayat yang membusuk dan dikerubuti lalat, wajah hancur, kaki putus, ditampilkan secara jelas, bahkan cenderung emosional dan provokatif.
Saya tidak tahu apakah film ini dibuat sebelum atau pasca kerusuhan politik di Burma. Tapi secara kedekatan waktu, film ini memiliki nilai yang cukup baik. Meski pada sisi lain, penggambaran peristiwa kerusuhan politik di Burma tidak terekam dengan baik -lebih pada satu perspektif saja, yaitu kebrutalan dan kekejian pada kemanusiaan. Nah, kesubjektifan personal inilah yang diangkat Sylvester Stallone yang juga merangkap sebagai sutradara.
Rambo IV ini sangat terasa tumpul. Rambo II menurut saya lebih sanggup menggugah emosi orang, meski tetap dalam kerangka subjektifitas nasionalis -dimana Amerika adalah segalanya. Tapi konstruksi cerita sanggup dibangun dengan halus dan menarik. Demikian juga dengan Rambo III yang menampilkan kedigjayaan Amerika dengan membombardir pasukan Uni Sovyet di Afghanistan. Dan lagi-lagi Rambo keluar sebagai juara. Dia memenangkan perang dengan begitu mudahnya.
Ketumpulan Rambo IV ini, sangat terasa dengan alur cerita yang terasa begitu cetek. Postur Rambo sebagai eks. tentara memang dekat dengan keperkasaan dan Rambo memang perkasa. Tapi sayang pada Rambo IV ini keperkasaan itu sekejap hilang. Konflik psikis yang dialami Rambo walau terasa berat tapi kurang menggambarkan keputusasaan Rambo yang akhirnya lari kepedalaman Thailand (ini juga jadi pertanyaan mengapa ke Thailand? Meski negara itu menjadi jalur masuknya Rambo ke Vietnam pada Rambo II).
Ironinya, kekerasan dan keperkasaan Rambo luluh lantak lantaran wanita. Mungkin Syl ingin menggambarkan walau bagaimanapun juga Rambo adalah laki-laki biasa yang punya rasa kasih sayang -hey, dia juga bisa membunuh tanpa ekspresi! Kekerasan Rambo yang melarang kelompok gereja memasuki Burma sekejap musnah walau ketika bernego dengan salah seorang pimpinan rombongan -laki-laki- Rambo bak karang menolak ajakan untuk memasuki wilayah konflik di Burma. Damn! Wanita memang perkasa, dan Rambo pun tunduk disudut kerling wanita.
Yang menyebalkan, Rambo seperti kehilangan arti. Walau dia lebih hebat dibanding sepasukan tentara bayaran yang disewa pihak gereja di Colorado untuk membebaskan sandera yang ditawan pasukan Burma –ups, ternyata gereja juga bisa menghalalkan pertumpahan darah. Rambo tidak lebih dari sekedar boneka pencabut nyawa. Konflik batin yang ada dibenak Rambo tidak bisa tertangkap jelas dimata penonton kecuali penggemar berat yang mengikuti sekuel Rambo. Dan saya yang mengikuti perjalanan Rambo merasakan betapa Rambo kini semakin tua dan putus asa.
Alur ceritanyapun bisa ditebak. Rambo berhasil memimpin tentara bayaran memasuki barak pasukan Burma dan membebaskan tawanan. Tak ada yang istimewa ketika adegan pembebasan ini, kecuali adegan sepasukan tentara Burma yang memperkosa enam perempuan tawanan secara massal. Dan tak segan-segan menampilkan gambar dada perempuan yang diperkosa walau hanya sekejapan mata –woi, dimana LSF? Juga adegan dimana jenderal tentara Burma “menggarap” anak laki-laki untuk memuaskan birahinya. Well, saya hanya bisa geleng kepala menyaksikan adegan itu. Rambo IV tidak hanya dangkal, tapi juga melecehkan.
Adegan pertempuran juga agak kurang masuk akal –meski film-film Rambo sarat dengan pembodohan- tapi cukuplah menghibur dengan hadirnya sedikit efek visual yang mengerikan: kepala meledak, kaki hancur dan cipratan darah yang mengenai kamera. Rambo memang bukan film bermutu meski cukup menghibur dan laris.
Yang agak menghibur ketika diakhir cerita, Rambo kembali lagi ke kampung halamannya di Amerika. Adegan yang hanya beberapa detik itu bagi saya cukup menyentuh emosi. Bukan apa-apa, sebab saya teringat Rambo I yang baru pulang tugas dari Vietnam dan kemudian mengamuk karena tidak diterima dengan baik di lingkungannya –konflik sosial yang dikemas menarik. Mmm, akankah Rambo V nanti akan mengulang sejarah? Atau hanya akan mengulang kedunguan yang diperlihatkan pada Rambo IV. Kita tunggu saja.
Lebak Bulus, 040208, 12:43
Kenal Rambo sejak SD.
Tentang John James Rambo:
Lahir 6 Juli 1947 di Bowie Arizona Amerika Serikat. Ayahnya adalah keturunan Indian Navajo dan ibunya keturunan Jerman. Lulus dari Rangeford High School tahun 1965 dan masuk US Army pada 18 Januari 1966 di usia 18 tahun. September 1966 dikirim ke Vietnam Selatan. Tahun 1967 kembali ke Amerika dan masuk pendidikan Special Forces (Green Berets) di Fort Bragg, North Carolina.
Akhir 1969 Rambo dikirim kembali ke Vietnam. November 1971 ditangkap tentara Vietnam Selatan didekat perbatasan Cina-Vietnam dan menjadi tawanan perang. Tahun 1972 Rambo berhasil melarikan diri dari kamp tahanan dan setelah lepas dikirim kembali berperang.
Tanggal 17 September 1974 Rambo diberhentikan sebagai tentara.
Ketika kembali ke Amerika, Rambo menemukan banyak veteran Vietnam yang mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat Amerika. Mereka dibenci dan dipanggil sebagai “Baby Killer”. Kondisi tersebut melahirkan Post-Traumatic Stress Disorder yang banyak dialami veteran perang, termasuk John James Rambo.
Rambo mendapatkan penghargaan Silver Stars, Bronze Stars, Purple Hearts, Distinguished Service Cross dan Medal of Honor.